Menurut teori belajar behavioristik atau aliran tingkah laku, belajar diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku sebagai akibat interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apapun yang berada di luar anda. Ia bisa berupa kejadian, peristiwa ataupun hanya sebuah objek biasa. Sedangkan respon adalah tanggapan anda terhadap stimulus tersebut. Belajar menurut psikologi behavioristik adalah suatu kontrol instrumental yang berasal dari lingkungan. Belajar tidaknya seseorang bergantung pada faktor-faktor kondisional yang diberikan lingkungan.
Stimulus dapat dirumuskan sebagai bahan yang dipelajari atau peristiwa pembelajaran yang dapat mendorong siswa memberikan responnya Respon yang diberikan pelajar adalah perilaku yang hanya diketahui sebagai akibat dari stimulus pembelajaran. Oleh karena itu, sangat penting bahwa penyebab hubungan antara stimulus dan respon didirikan dalam rangka untuk mengevaluasi efektivitas stimulus pembelajaran. Penting bagi pembuat pesan (dalam hal ini adalah guru atau dosen) untuk benar-benar mengerti respon apa yang diperlukan agar S-R dapat dibentuk. Respon harus dinilai dalam bentuk pantas atau tidak pantas dalam penjelasan, karena hal ini penting sebagai feedback bagi guru atau dosen yang mengajar.
Setelah respon dibuat dan dinilai, harus ada kelanjutan berupa reinforcement (pengulangan). Reinforcement bisa menjadi positif dan negatif. Skinner lebih percaya kepada “penguat negatif” (negative reinforcement), yang tidak sama dengan hukuman. Bedanya dengan hukuman adalah, bila hukuman harus diberikan (sebagai stimulus) agar respon yang timbul berbeda dari yang diberikan sebelumnya, sedangkan penguat negatif (sebagai stimulus) harus dikurangi agar respon yang sama menjadi kuat. Misalnya seorang siswa perlu dihukum untuk suatu kesalahan yang dibuatnya, jika ia masih bandel maka hukuman harus ditambah. Tetapi bila siswa membuat kesalahan dan dilakukan pengurangan terhadap sesuatu yang mengenakkan baginya (bukan malah ditambah), maka pengurangan ini mendorong siswa untuk memperbaiki kesalahannya, inilah yang disebut penguat negatif. Sedangkan untuk penguatan positif biasanya diberikan melalui pujian, tindakan (senyuman, dsb) dan hadiah.
Untuk bidang pendidikan kedua jenis reinfocement lebih sering digunakan penguatan positif yang berhubungan dengan pemberian hadiah bagi siswa yang berprestasi, sedangkan reinfoecement negatif sangat identik dengan pemberian hukuman bagi siswa yang melanggar aturan sekolah. Namun perlu diadakan penelitian lebih jauh untuk reinforcement negatif karena mengandung dua akibat, yaitu bisa berakibat terhentinya perilaku, bisa juga membuat perilaku diulangi namun dengan harapan menjadi lebih baik.
Apakah penguatan benar-benar “menguatkan” kepada murid dapat ditentukan melalui “trial and error”. Suatu hal yang benar-benar “menguatkan” bagi seseorang belum tentu cocok dengan orang lain. Penguatan yang diperlukan setiap orang berbeda.
Reinforcement dan feedback sering dianggap sama, meski sejatinya berbeda. Feedback biasanya termasuk informasi yang berhubungan dengan akurasi (ketepatan) respon dengan tujuan memandu murid untuk membuat jawaban yang benar (kulhavy, 1977; schimmel, 1988). Feedback (umpan balik) dapat instruktif tanpa harus meningkatkan respon yang diinginkan. Penguatan, disisi lain, dapat meningkatkan kemungkinan respon yang diinginkan tanpa hubungan yang diperlukan untuk respons substantif. Sebagai contoh, seorang karyawan yang suka merokok didalam ruangan, ketika melihat rekan kerjanya selalu keluar ruangan ketika ia mulai merokok tanpa alasan yang jelas, si karyawan lambat laun akan mengurangi intensitas merokoknya karena ada pengulangan berupa tindakan keluar ruangan yang dilakukan reka kerjanya (hal ini membuatnya merasa bersalah dan tidak nyaman), inilah reinforcement. Lain halnya bila si karyawan perokok “hanya” diberitahu akibat negatif dari merokok, respon yang diberikan tentu akan berbeda.
Meskipun asosiasi S-R adalah unit dasar dalam analisis perilaku model, naum teori behavioristik seringkali dikritik karena sering tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak hal yang tidak dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Sukses dalam belajar hampir selalu membutuhkan set kompleks dari peristiwa S-R. Tugas kompleks dan masalah pemecahan dijelaskan melalui teori kognitif. Prinsip behavior diterapkan pada pembelajaran berbasis komputer (computer based instruction) dan pembelajaran berbasis web (web based course).