Pada seminar Pemanfaatan Software Berbasis Open Source bagi Pendidikan yang dilaksanakan pada 01 Juli 2010, TIK yang pada seminar sebelumnya masih dalam ranah yang luas, kali ini dipersempit lingkupnya. Dalam Seminar ini pure yang dibahas adalah pemanfaatan open source. Para narasumber yang diundangpun merupakan pembicara yang paham betul akan pemanfaatan open source. Open source yang kini mulai ramai digunakan sebagai operating system ternyata jika dikaji lebih lanjut sangat bermanfaat bagi dunia pendidikan.
Bangsa Indonesia, pembajak? Hal ini dikemukakan suatu artikel news paper online yang dinukil oleh Pak Agus Sediadi yang merupakan staf Kemenristek. Ikhwal tersebut karena ternyata tingkat pelanggaran hak cipta di Indonesia, khususnya terhadap software, sangatlah tinggi. Tingginya harga software komersil telah mendorong tumbuh suburnya pembajakan di Indonesia. Konsumen relatif akan memilih software yang kontennya sama tetapi murah, meski itu bajakan.
Fenomena memprihatinkan tersebut telah mendorong pemerintah untuk mencari solusi alternatif. Untuk menanggulangi pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual, khususnya software, pemerintah telah mencanangkan penggunaan dan pengembangan software berbasis open source. Banyak keuntungan yang didapat dari open source software ini. Poin utamanya adalah software ini biasanya dapat didistribusikan secara bebas, dapat diperoleh secara murah (bahkan gratis), dan tentu saja legal. Open source software bahkan mempunyai fitur/konten yang serupa dengan software komersil. Tampilan grafisnya bahkan tidak terlalu berbeda dari software komersil yang mempunyai fitur sama. Selain itu, karena saat ini pendayagunaan open source masih sempit, maka akan terbuka banyak lapangan kerja dalam kaitannya dengan pengembangan open source ini. Berangkat dari kenyataan tersebut pemerintah telah berkomitmen dalam pemanfaatan open source seluas-luasnya. Saat ini pemerintah tengah berupaya mengimplementasikan open source dalam instansi-instansi pemerintahan. Selain dapat menghemat anggaran operasional, penggunaan open source juga relatif mudah.
Meski pemerintah telah mencanangkan pemanfaatan dan pengembangan open source di Indonesia, namun tidak sedikit yang belum mengetahui apa itu open source. Kebanyakan menganggap bahwa open source yang ada hanyalah Linux. Dalam seminar ini Pak Zainal A. Hasibuan,P.hd yang merupakan staf dari DETIKNAS mencoba menguak misteri tentang open source dan pemanfaatannya dalam pendidikan.
Pada dasarnya open source software (OSS) merupakan software yang lisensinya diserahkan pada pengguna secara lebih fleksibel, tidak seperti software komersil (berbayar) yang lisensinya rigid. OSS dapat dikembangkan, dimodifikasi dioprek, secara bersama (dalam komunitas). Meski sering disebut Free Software, bukan berarti tidak ada harganya, hanya saja harga yang dibayar akan jauh terasa lebih murah daripada manfaat yang akan didapat.
Kehadiran OSS sangat menjanjikan bagi para pengguna software. Resiko penggunaannya rendah, disesuaikan dengan kebutuhan (juga daya beli), dapat dimodifikasi seseaui perubahan kebutuhan dan dapat dimanfaatkan secara bersama-sama. Dalam upaya mendorong pemanfaatan OSS ini pemerintah menyerukan penggunaan software legal. OSS relatif dapat dimiliki dengan mudah dan murah dibandingkan software komersil yang berbayar. Dengan adanya kesadaran memakai software legal, maka diharapkan pelanggaran HKI terhadap software akan terreduksi.
Selain mudah didapatkan, OSS juga dapat diaplikasikan dalam dunia pendidikan. OSS dapat digunakan dalam manajemen Perguruan Tinggi, misalnya pada Sistem Repositori di UI. Selain di PT, bukan tidak mungkin OSS dapat diintegrasikan dalam manajemen pelayanan siswa di sekolah. Dalam ranah belajar dan pembelajaran kita mengenal e-learning. OSS juga dapat memfasilitasi adanya pembelajaran melalui e-learning.
Jika Pak Zainal A. Hasibuan,P.hd lebih menjelaskan tentang pengertian OSS dan pemanfaatannya dalam pendidikan secara garsi besar, maka Pak Muhidin Saimin dari komunitas BLANKON memaparkan tentang penggunaan OSS di kelas. Hal ini sesuai dengan pengalaman beliau yang merupakan guru di sebuah SMA.
Dalam seminrnya Pak Muhidin menjelaskan OSS yang dapat digunakan siswa di kelas sebagai sumber belajar. Software-software tersebut memiliki konten-konten yang menarik dan edukatif. Selain itu, OSS tersebut dibuat dan dikembangkan sesuai dengan jenjang pendidikan siswa. Sebagai contoh, beliau membawa OSS ubuntu-edu-presschool untuk jenjang setingkat Taman Kanak-kanak; ubuntu-edu-primary untuk jenjang setingkat Sekolah Dasar; ubuntu-edu-secondary untuk jenjang setingkat SMP dan SMA; dan ubuntu-edu-tertiary setingkat jenjang Perguruan Tinggi. Ubuntu-edu yang ditujukan untuk jenjang SMP dan SMA mempunyai tiga menu, yaitu Pendidikan, Permainan dan Sains. Untuk tingkat Perguruan Tinggi menu yang ada hanya Sains dan Pendidikan, sedangkan untuk tingkat TK dan SD hanya terdapat menu Pendidikan dan Permainan.
OSS ubuntu-edu ini dapat diinstal sesuai kebutuhan, jika yang diperlukan hanya untuk tingkat SD, maka yang diinstal adalah ubuntu-edu-primary saja dalam satu operating system (OS). Akan tetapi jika semua menu dalam seluruh jenjang dibutuhkan, maka semua OSS tersebut tinggal dinstal saja dalam satu OS. Dalam penjelasan teori tentang ubuntu-edu tersebut beliau juga menjelaskan serta mendemonstrasikan cara menginstal ubuntu-edu yang benar kepada semua peserta seminar.
Selanjutnya dalam menu Sains yang terdapat pada ubuntu-edu, dijelaskan tentang salah satu programnya yaitu KStars. KStars merpakan program yang tidak hanya untuk pendidikan, tetapi juga untuk pemerintahan, keagaaman, dan masyarakat luas. KStars disebut juga Desktop Planetarium, artinya alat untuk mengamati benda-benda di langit atau planet-planet, dalam bentuk program di computer desktop. Sebagai bahan praktek Pak Muhidin mengajak peserta menentukan kapan awal bulan Ramadhan tiba di tahun 2010 ini berdasarkan perhitungan melalui KStars. Selain KStars, dalam menu Sains dipaparkan juga Kalzium yang fungsinya mirip dengan Tabel Periodik Unsur dalam mata pelajaran kimia. Untuk menu game, Ri-Li dan Potato Guy merupakan game edukatif untuk pembelajaran.